CHICKEN SOUP
FOR THE COUPLE'S
SOUL
71 Kisah yang
Memberikan Inspirasi tentang
Cinta dan Kebersamaan
Jack Canfield
Mark Victor Hansen
Barbara De Angelis, Ph.D.
Mark Donnelly
Chrissy Donnelly
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2001
1. CINTA DAN KEMESRAAN
"Cinta adalah dorongan yang lebih kuat daripada
apa pun. Cinta tidak kasat mata—tidak dapat dilihat
atau diukur—tetapi cukup kuat untuk mengubah
Anda dalam sekejap, dan menawarkan kepada
Anda lebih banyak kebahagiaan daripada benda
apa pun yang mungkin dapat Anda miliki".
Barbara De Angelis, Ph.D.
Teringat Padamu
"Hidup di dalam hati yang kita tinggalkan bukanlah
mati".
Thomas Campbell
Wajah Sophie tampak samar dalam cahaya musim dingin yang kelabu di kamar duduk. Dia terlelap di kursi nyaman yang dibelikan Joe untuknya pada ulang tahun perkawinan mereka yang keempat puluh. Kamar itu hangat dan tenang. Di luar, serpih-serpih salju lembut berjatuhan.
Pukul satu seperempat tukang pos melewati tikungan, membelok ke Allan Street. Hari ini dia agak terlambat,
bukan karena salju, tetapi karena hari itu Hari Valentine. Ada lebih banyak surat daripada biasanya. Dia melewati rumah Sophie tanpa mengangkat wajahnya. Dua puluh menit kemudian dia naik kembali ke mobilnya, lalu pergi. Sophie terbangun ketika mendengar mobil pos itu menjauh. Dia melepas kacamatanya lalu melap mulut dan matanya dengan saputangan yang selalu diselipkannya dilengan bajunya. Dia menegakkan badannya dengan bertumpu pada lengan kursi, pelan-pelan, sambil merapikan
kimononya yang berwarna hijau tua.
Sandalnya membuat bunyi kerisik lembut di lantai yang
tak beralas ketika dia berjalan ke dapur. Dia berhenti di
tempat cuci piring untuk mencuci dua piring yang ditinggalkannya
di meja racik setelah makan siang tadi. Kemudian
dia mengisi sebuah cangkir plastik dengan air, setengah
penuh, lalu menelan beberapa butir pil. Saat itu pukul satu
lewat empat puluh lima.
Di kamar duduk, dekat jendela depan, ada kursi goyang.
Sophie mendudukkan diri di kursi iru. Setengah jam
lagi anak-anak akan lewat, mereka pulang dari sekolah.
Sophie menunggu, duduk bergoyang-goyang sambil memandangi
salju.
Yang muncul lebih dulu adalah anak-anak laki-laki,
seperti biasa, sambil berlari-lari dan meneriakkan sesuatu
yang tak bisa didengar Sophie. Sambil lewat, hari ini mereka
membuat bola-bola salju, mereka saling melempar
dengan seru. Sebutir bola salju luput dan menghantam
jendela Sophie dengan keras. Sophie terjengkang, kursi goyangnya
tergeser ke pinggir permadaninya yang berbentuk
oval.
Anak-anak perempuan berlari-lari menyusul anak-anak
laki-laki, berdua-dua dan bertiga-tiga, sambil menangkupkan
kedua tangan mereka yang terbungkus kaus tangan
wol tebal dan tertawa-tawa cekikikan. Sophie mendugaduga
apakah mereka saling bertukar cerita tentang kartukartu
Valentine yang mereka terima di sekolah. Seorang
anak perempuan cantik berambut cokelat panjang berhenti
dan menunjuk ke jendela tempat Sophie duduk sambil
memandang ke luar. Sophie menyembunyikan wajahnya di
balik gorden, tiba-tiba dia merasa malu.
Ketika dia melongok ke luar lagi, anak-anak itu sudah
pergi. Di dekat jendela udara dingin, tetapi dia tetap duduk
di situ, memandangi salju berjatuhan menutupi jejakjejak
kaki anak-anak itu.
Mobil pengangkut bunga membelok ke Allan Street.
Sophie mengikutinya dengan pandangan matanya. Mobil
itu bergerak pelan. Dua kali berhenti, lalu berjalan lagi.
Kemudian pengemudinya meminggir di depan rumah Bu
Mason, tetangga sebelahnya, dan berhenti.
Siapa yang mengirim bunga untuk Bu Mason? Sophie
menebak-nebak. Putrinya yang tinggal di Wisconsin? Atau
abangnya? Tidak mungkin, abangnya sakit keras. Mungkin
putrinya. Manis benar anak itu.
Bunga membuat Sophie ingat akan Joe dan, untuk sesaat,
dibiarkannya kenangan sedih memenuhi pikirannya.
Besok pagi tanggal lima belas. Delapan bulan lewat sejak
Joe meninggal.
Pengantar bunga itu sedang mengetuk pintu depan rumah
Bu Mason. Dia membawa sebuah kotak bermotif hijau-putih
yang panjang dan sebuah clipboard. Kelihatannya tak ada yang
menjawab. Tentu saja! Sekarang hari Jumat—setiap Jumat sore
Bu Mason pergi membuat quilt di gereja. Pengantar bunga itu
memandang berkeliling, kemudian berjalan ke rumah Sophie.
Sophie bangkit dari kursi goyang dan berdiri rapat ke
gorden. Lelaki itu mengetuk pintu. Tangan Sophie gemetar
ketika dia merapikan rambutnya. Dia sampai ke lorong
depan ketika orang itu mengetuk untuk ketiga kalinya.
"Ya?" kata Sophie sambil mengintip ke luar dari pintu
yang terbuka sedikit.
"Selamat sore, Bu," kata orang itu keras-keras. "Maukah
Anda menerima titipan barang kiriman untuk tetangga
Anda?"
"Ya," jawab Sophie sambil membuka pintu lebar-lebar.
"Sebaiknya saya letakkan di mana?" orang itu bertanya
dengan sopan sambil melangkah masuk.
"Tolong letakkan di dapur. Di atas meja." Orang itu
tampak besar bagi Sophie. Dia nyaris tak bisa melihat wajah
orang itu di antara topi petnya yang hijau dan cambangnya
yang lebat. Sophie lega karena orang itu segera
pergi. Dikuncinya pintu setelah orang itu keluar.
Kotak itu panjangnya sama dengan panjang meja dapur.
Sophie berjalan mendekat dan membungkuk untuk membaca
tulisannya: "NATALIE'S Flower for Every Occasion."
Wangi mawar menyambutnya. Sophie memejamkan mata
dan menarik napas pelan-pelan, membayangkan mawarmawar
kuning. Joe selalu memilih mawar kuning. "To my
sunshine," begitu katanya, sambil mengulurkan buket bunga
yang mewah itu. Joe akan tertawa riang, mengecup keningnya,
kemudian menggenggam tangannya dan menyanyikan
You Are My Sunshine untuknya.
Pukul lima Bu Mason mengetuk pintu depan rumah
Sophie. Sophie masih duduk dekat meja dapur. Kotak wadah
bunga itu sudah terbuka. Sophie meletakkan mawarmawar
itu di pangkuannya, menggoyangnya pelan, dan
membelai daun bunganya yang kuning lembut. Bu Mason
mengetuk lagi, tetapi Sophie tidak mendengar. Beberapa
menit kemudian tetangganya itu pergi.
Beberapa saat kemudian Sophie bangkit, lalu meletakkan
bunga-bunga itu di meja dapur. Pipinya memerah. Dia menarik
bangku rendah menyeberangi lantai dapur dan
mengambil vas porselen putih dari sudut atas lemari.
Dengan gelas minum dia mengisikan air ke dalam vas, lalu
dengan lembut menata mawar-mawar dan daun-daun itu.
Setelah itu dibawanya vas itu ke kamar duduk.
Dia tersenyum ketika sampai di tengah ruangan. Dia
memutar badannya, kemudian mulai berdansa, melangkah,
memutar, membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Dia
melangkah dengan ringan dan anggun, berkeliling kamar
duduk, ke dapur, ke lorong depan, kembali lagi. Dia berdansa
sampai kakinya lemas, kemudian menjatuhkan diri
di kursi nyaman itu dan tertidur.
Pada pukul enam seperempat, Sophie terbangun karena
kaget. Seseorang mengetuk pintu, kali ini pintu belakang.
Ternyata, Bu Mason.
"Halo, Sophie," kata Bu Mason. "Kau baik-baik saja?
Aku mengetuk pintumu pukul lima dan agak cemas karena
kau tidak menjawab. Kau sedang tidur?" Wanita itu terus
bicara sambil membersihkan salju yang menempel di sepatu
botnya di atas keset. Kemudian dia melangkah
masuk. "Aku benci salju. Kau juga, kan? Menurut radio,
tengah malam nanti salju bisa sampai enam inci. Tapi, kita
tak pernah bisa mempercayai mereka. Masih ingat musim
dingin tahun lalu ketika mereka meramalkan salju setebal
empat inci dan nyatanya malah dua puluh satu inci? Dua
puluh satu! Dan mereka bilang tahun ini musim dingin
tidak akan terlalu dingin. Ha! Menurutku sudah bermingguminggu
suhu tak pernah lebih tinggi daripada nol. Tahukah
kau, tagihan minyakku bulan lalu sampai $263? Padahal
rumahku kecil!"
Sophie hanya setengah mendengarkan. Tiba-tiba dia
ingat bunga-bunga mawar itu. Wajahnya merah padam
karena malu. Kotak bunga yang kosong itu ada di belakangnya
di meja dapur. Apa yang akan dikatakannya kepada
Bu Mason?
"Aku tak tahu berapa lama lagi aku masih sanggup
membayar tagihan. Kalau saja Alfred, semoga Tuhan
memberkatinya, selalu hati-hati memegang uang seperti
Joseph. Joseph! Astaga! Aku hampir melupakan bungabunga
mawar itu."
Pipi Sophie terasa panas. Dia bicara tergagap-gagap,
meminta maaf, dan melangkah ke samping untuk menunjukkan
kotak yang kosong itu.
"Oh, bagus," sela Bu Mason. "Kau sudah memasukkan
mawar-mawar itu ke dalam air. Kalau begitu kau
pasti sudah melihat kartunya. Kuharap kau tidak kaget
melihat tulisan tangan Joseph. Joseph memintaku
untuk mengirimkan mawar kepadamu pada tahun pertama,
jadi aku dapat menjelaskan keinginannya. Dia tidak
ingin mengagetkanmu. 'Dana Mawar,' kurasa begitu
dia menamainya. Dia sudah mengaturnya dengan
pemilik toko bunga bulan April yang lalu. Pria yang baik,
Joseph-mu..."
Tetapi Sophie telah berhenti mendengarkan. Hatinya
berdebar-debar ketika dia mengambil amplop putih kecil
yang tadi tidak dilihatnya. Amplop itu sejak tadi tergeletak
di samping kotak bunga. Dengan tangan gemetar, dikeluarkannya
kartu itu.
"To my sunshine," tertulis di situ. "Aku mencintaimu
sepenuh hati. Cobalah bergembira bila kau teringat padaku.
Dengan cinta, Joe."
Alicia von Stamwitz